Minggu, 09 Agustus 2015

Asal Usul dan Wilayah Dua Kelarasan




1. Asal Kata dan Pengertian Kata Kelarasan
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali terjadi kerancuan mengenai kata “lareh” dengan kata “laras”. Dalam bahas daerah Minangkabau, kata “lareh” berarti hukum, yaitu hukum adat. Jadi lareh Koto Piliang berarti Hukum Adat Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago berarti Hukum Adat Bodi Caniago. Disamping itu kata lareh berarti “daerah” seperti Lareh Nan Panjang.

Menurut kepercayaan orang Minangkabau yang berpedoman kepada tambo Alam Minangkabau, pertama sekali didirikan Lareh Nan Panjang yang berpusat di Pariangan Padang Panjang yang dianggap sebagai nagari tertua di Minangkabau. Pucuk pimpinan pada waktu itu Dt. Suri Dirajo. Nagari yang termasuk daerah Lareh Nan Panjang adalah : Guguak Sikaladi, Pariangan, Padang Panjang, Sialahan, Simabua, Galogandang Turawan, Balimbiang. Daerah ini dikatakan juga Nan Sahiliran Batang Bangkaweh, hinggo Guguak Hilia, Hinggo Bukik Tumansu Mudiak.

Semasa penjajahan Belanda daerah Minangkabau dijadikan Kelarasan yang dikepalai oleh seorang Laras atau Regent. Kelarasan bikinan penjajahan Belanda ini merupakan gabungan beberapa Nagari dan tujuannya lebih mempermudah pengontrolan oleh penjajah. Yang menjadi laras atau regent ditunjuk oleh Belanda. Setelah penjajahan Belanda berakhir, maka kelarasan bikinan Belanda ini juga lenyap tidak sesuai dengan susunan pemerintahan secara adat yang berlaku di Minangkabau.

2. Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago dengan Daerahnya.
Yang termasuk lareh Koto Piliang dengan pengertian yang memakai sistem adat Koto Piliang disebut Langgam Nan Tujuah. Langgam Nan Tujuh itu adalah sebagai berikut:

1.Sungai Tarab Salapan Batu, disebut Pamuncak Koto Piliang
2. Simawang Bukik Kanduang, disebut Perdamaian Koto Piliang
3. Sungai Jambu Lubuak Atan, disebut Pasak Kungkuang Koto Piliang
4. Batipuah Sepuluh Koto disebut Harimau Campo Koto Piliang
5. Singkarak Saniang Baka, disebut Camin Taruih Koto Piliang
6. Tanjung Balik, Sulik Aia, disebut Cumati Koto Piliang
7. Silungkang, Padang Sibusuak, disebut Gajah Tongga Koto Piliang

Disamping Langgam Nan Tujuh, nagari-nagari lain yang termasuk Lareh Koto Piliang adalah Pagaruyuang, Saruaso, Atar, Padang Gantiang, Taluak Tigo Jangko, Pangian, Buo, Bukik Kanduang, Batua, Talang Tangah, Gurun, Ampalu, Guguak, Padang Laweh, Koto Hilalang, Sumaniak, Sungai Patai, Minangkabau, Simpuruik, Sijangek.

Pusat pemerintahan Lareh Koto Piliang di Bungo Satangkai Sungai Tarab. Dengan demikian pusat pemerintahan sudah tidak di Pariangan Padang Panjang lagi. Daerah-daerah yang termasuk Lareh Bodi Canago disebut juga dalam tambo “Tanjuang Nan Tigo, Lubuak Nan Tigo” :

Tanjuang Nan Tigo
1. Tanjuang Alam
2. Tanjuang Sungayang
3. Tanjuang Barulak
Lubuak Nan Tigo
1. Lubuak Sikarah di Solok
2. Lubuak Simauang di Sawahlunto Sijunjung
3. Lubuak Sipunai di Tanjuang Ampalu

Disamping Lubuak Nan Tigo dan Tanjuang Nan Tigo, yang termasuk Lareh Bodi Caniago juga adalah Limo Kaum XII Koto dan sembilan anak kotonya. Daerah yang termasuk XII Koto adalah: Tabek, Sawah Tengah, Labuah, Parambahan, Sumpanjang, Cubadak, Rambatan, Padang Magek, Ngungun, Panti, Pabalutan, Sawah Jauah. Sembilan Anak Koto Terdiri Dari : Tabek Boto, Salaganda, Baringin, Koto Baranjak, Lantai Batu, Bukik Gombak, Sungai Ameh, Ambacang Baririk, Rajo Dani. Pusat pemerintahan di Dusun Tuo Limo Kaum.

Suatu peninggalan Lareh Bodi Caniago yang sampai saat sekarang merupakan monumen sejarah adalah Balairung Adat yang terdapat di desa Tabek. Di Balairung Adat inilah segala sesuatu dimusyawarahkan oleh ninik mamak bodi caniago pada masa dahulu.

3. Beberapa Pendapat Tentang Lahirnya Koto Piliang dan Bodi Caniago
Mengenai lahirnya Koto Piliang dan Bodi Caniago ada beberapa versi. Datuk Batuah Sango dalam bukunya Tambo Alam Minangkabau mengemukakan sebagai berikut :

“…sesudah itu mufakatlah nenek Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang dengan Datuk Suri Dirajo hendak membagi kelarasan, maka dibagilah oleh orang yang bertiga itu menjadi dua kelarasan…”.

Adapun sebabnya dibagi dua laras negeri itu yaitu karena yang menjadi kepala atau yang punya pemerintahan ialah Datuk Ketumanggungan, dialah yang menjadi raja pada waktu itu. Sebab Datuk Ketumanggungan ini adalah anak dari raja, dan datuk perpatih ini yaitu di bawah Datuk Ketumanggungan sebagai berpangkat mangkubumi (perdana menteri) karena ia adalah orang yang pandai mengatur kerajaan sehingga negeri pariangan padang panjang menjadi besar dan sempurna peraturannya.

Dan dapat pula ia meluaskan pemerintahan samapai ke durian ditakuak rajo hingga sialang balantak basi sampai ke sipisau-pisau hanyuik hingga semuanya adalah oleh peraturan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Oleh karena itu berfikirlah Datuk Ketumanggungan akan membalas jasa usaha dari Datuk Perpatih Nan Sabatang dan mufakatlah Datuk Ketumanggungan, Datuk Perpatih Nan Sabatang serta Datuk Suri Dirajo dengan segala penghulu-penghulu, manti dan hulubalang, sambil Datuk Ketumanggungan bersuara lebih dahulu dalam kerapatan, karena nagari sudah ramai dan peraturan sudah sempurna diatur oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang, tidaklah saya dapat membalas budinya itu melainkan negeri ini saya berikan sebagian supaya boleh ia berkuasa pula memerintah dalam negeri ini.

Sesudah bicara Datuk Ketumanggungan itu, maka dijawab oleh anggota kerapatan, itulah kata tuanku yang pilihan atau kata yang tak boleh dipalingkan lagi. Sebab itulah pemerintahan Datuk Ketumanggungan bernama Koto Piliang berasal dari kota pilihan, atau dari kata yang tidak boleh dipalingkan. Pemerintahan Datuk Perpatih Nan Sabatang bernama Bodi Caniago yang berasal dari budi yang berharga.

Untuk memperoleh pengertian dari kutipan diatas adalah, bahwa pada mulanya kepala pemerintahan adalah Datuk Ketumanggungan sesudah ayahnya meninggal dunia. Sedangkan yang membantunya sehari-hari adalah adiknya yang berlainan ayah yaitu Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Berkenaan adiknya telah berrbuat baik dalam meluaskan daerah dan pemerintahan, timbulah niat saudaranya untuk membalas budi baik adiknya Datuk Perpatih Nan Sabatang. Niatnya ini disampaikan pada suatu sidang kerapatan adat. Setelah niatnya disampaikan kepada sidang kerapatan, untuk memberi daerah kekuasaannya sebagian kepada adiknya semua anggota sidang kerapatan setuju dengan rencana yang dikemukakan oleh Datuk Ketumanggungan. Bahkan dikatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Datuk Ketumanggungan tersebut, sudah merupakan kata pilihan, dengan arti kata tidak perlu lagi dipersoalkan.

Dari sinilah asal kata Koto Piliang yaitu dari kata yang pilihan. Sedangkan pemerintahan atau sistim adat Bodi Caniago berasal dari bodi baharago (budi yang berharga), yaitu Datuk Perpatih Nan Sabatang telah bertanam budi terlebih dahulu dan kemudian mendapat penghargaan dari saudaranya Datuk Ketumanggungan.

Pendapat lain mengatakan bahwa Bodi Caniago berasal dari kata “bodhi caniago” yang artinya berasal dari kata bhodi can yaga yang artinya bahwa budi nurani manusialah yang menjadi sumber kebajikan dan kebijakan. Sedangkan Koto Piliang berasal dari bahasa sansekerta yaitu ”koto pili” yang dari kata pili hyang artinya segala sesuatu bersumber sabda dari hyang dan pili sama artinya dengan karma atau dharma. Datuk Ketumanggungan seorang penganut hiduisme yang regilius, percaya manusia disusun dalam kerangka hirarki piramidal dengan pucuk, seorang pribadi yang merenungkan langit (hyang). Datuk Perpatih Nan Sabatang seorang egaliter, demokrat murni yang menilai tinggi kedudukan pribadi yang menganut persamaan dan kesamaan.

Pada dasarnya orang minangkabau sampai sekarang masih memegang teguh asal kata Koto Piliang dan Bodi Caniago yang bersumberkan kepada tambo Alam Minangkabau. (Red)

*** Disadur dari berbagai sumber ***

Tragedi Pembunuhan Keluarga Kerajaan Pagaruyung di Koto Tangah


Tuanku Raja Muning Alamsyah atau juga yang disebut Yang Dipertuan Sultan Alam Muningsyah adalah raja alam Pagaruyung yang secara luar biasa selamat dari tragedi pembunuhan di Koto Tangah, Tanah Datar pada tahun 1809 dalam masa Perang Paderi berkecamuk di Minangkabau. Tahun terjadinya tragedi ini dipertikaikan.


Christine Dobin mencatatkan dalam Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, (Inis, Jakarta 1992) tragedi tersebut terjadi pada tahun 1815, sebagaimana yang juga ditulis Rusli Amran dalam Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, (Sinar Harapan, Jakarta 1981).

Menurut A.A.Navis dalam Alam Terkembang Jadi Guru (Penerbit PT Pustaka Grafiti pers, Jakarta 1984 cetakan pertama) tragedi tersebut bermula dari pertengkaran antara kaum Paderi dengan kaum adat yang diwakili oleh raja beserta pembesar kerajaan lainnya. Menurut MD Mansur dkk.dalam Sejarah Minangkabau (Penerbit Bharata, Jakarta, 1970) perundingan tersebut diadakan pada tahun 1809. Padamulanya dilakukan dengan iktikad baik oleh Tuanku Lintau, telah beralih menjadi sebuah pertengkaran. Menurut Muhamad Radjab dalam bukunya Perang Paderi, (Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 1964 cetakan kedua) hal itu terjadi juga pada tahun 1809.

Karena ikut campurnya Tuanku Lelo, salah seorang tokoh Paderi yang ambisius dari Tapanuli Selatan. Beberapa orang dari keluarga raja seperti Tuanku Rajo Naro, Tuanku di Talang dan seorang putra raja lainnya dituduh tidak menjalankan aqidah Islam secara benar, oleh karena itu mereka anggap kapir dan harus dibunuh. Perundingan berubah menjadi pertengkaran dan berlanjut menjadi pembunuhan. Semua rombongan raja beserta Basa Ampek Balai dan para penghulu lainnya terbunuh. Daulat Yang Dipertuan Muningsyah dapat menyelamatkan dengan cara yang ajaib sekali. Baginda bersama cucu perempuannya Puti Reno Sori menghindar ke Lubuk Jambi Kuantan.

Menurut silsilah raja-raja Pagaruyung, Puti Reno Sori bersaudara dengan Sultan Alam Bagagar Syah, pada masa yang sama menyingkir ke Padang. Sultan Alam Bagagar Syah, Puti Reno Sori dan tiga saudara mereka lainnya adalah anak dari Tuan Gadih Puti Reno Janji dan ayahnya Yang Dipertuan Fatah. Sewaktu Sultan Alam Bagagar Syah dinobatkan menjadi raja alam menggantikan datuknya Sultan Alam Muningsyah, saudara sepupunya Sultan Abdul Jalil yang berada di Buo dikukuhkan menjadi Raja Adat dengan gelar Yang Dipertuan Sembahyang.

A.A. Navis dalam Alam Terkembang Jadi Guru, mencatat bahwa Daulat Yang Dipertuan Muningsyah wafat pada 1825 dalam usia 80 tahun. Baginda makamkan di pemakaman raja-raja Minangkabau, ustano rajo di Pagaruyung. (Red)


Disarikan oleh : Puti Reno Raudha Thaib

Rabu, 29 Juli 2015

Warisan Leluhur Dalam Balutan Hari Raya Idul Fitri

Tujuh Hari, Warga Gauang Rayo Katampek

Di banyak daerah, momentum lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1436 H mungkin banyak diisi dengan ajang silaturrahmi lewat mengunjungi rumah sanak saudara, keluarga, famili, kerabat, selanjutnya jalan-jalan ke tempat-tempat wisata/ hiburan yang ada. Namun berbeda halnya dengan masyarakat Nagari Gauang, Kabupaten Solok, justru selama sepekan, Sabtu – Kamis (18-23/7), mereka berbondong-bondong ke pandam pekuburan guna melaksanakan ritual ‘Rayo Katampek’.  Konon ini lebih dari sekadar ritual lebaran,  mau tau kisahnya ?

Tim Liputan— Solok



 Sekadar diketahui, perkampungan kecil berpenduduk sekitar 2000 jiwa ini terdapat di ujung Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, persisnya berbatas langsung dengan Kota Solok. Disegi ekonomi, masyarakatnya hampir 60 persen bergantung dari sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan (karet, kakao).  

Nagari Gauang juga dikenal sebagai daerah penghasil batu merah (batu bata) sesudah Nagari Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Hal ini ditandai dengan terdapatnya sejumlah bedeng di Jorong bansa dan Jorong Gando.

Namun siapa menyangkal,  dibalik kondisi sosial yang terlihat biasa-biasa saja seiring dengan kian kuatnya irama zaman, Nagari Gauang justru mampu bertahan dengan seabrek nilai-nilai tradisi, adat dan budaya yang diwarisi secara turun-temurun. Salah satu bentuk kearivan lokal yang berlaku adalah ‘Rayo Katampek’ yang sistem pelaksanaannya dihelat tujuh hari pasca 1 Syawal (hari Raya Idul Fitri).

Dari penelusuran di sejumlah lokasi Rayo Katampek, seperti di Pandam Guguk Limausirek Jorong Gelanggang, Sabtu (18/7), Tampek Gadang, Jirek Tapuih, Kubang Epoh di Jorong Bansa, Minggu (19/7), hingga hari terakhir Jirek Jauah dan Jirek Gadang di Jorong Bansa, Kamis (23/7). Ratusan masyarakat terlihat begitu antusias mengkikuti jalannya ritual unik tersebut.  Tanpa terkecuali diantaranya kalangan muda-mudi, ikut larut dalam balutan suasana yang penuh kekeluargaan.

Semisal di Pandam Pekuburan Tampek Gadang milik kaum Caniago, terlihat warga yang datang memadati lokasi acara mencapai lebih dari 1000 jiwa, itupun nyaris melibatkan semua kalangan mulai anak-anak sampai  lanjut usia. Dari awal hingga akhir, memakan waktu  lebih dari tiga jam.

Mula-mula diawali prosesi pidato adat pasambahan antar pihak sipangka (tuan rumah-red) dengan unsur tokoh agama, selanjutnya diikuti pembagian jamba (nasi  bungkus, kue-kue) ke masing-masing pengunjung bersamaan dengan berlangsungnya ritual balaho (tahlilan) yang diikuti seluruh warga yang hadir. Sehabis jamba dibagikan, dilangsungnkan prosesi pengumpulan infaq/ sedekah untuk pembangunan Masjid, kemudian ditutup dengan doa.   

Dalam satu hari, Rayo Katampek bisa berlangsung di dua sampai empat lokasi berbeda, dengan sistem pelaksanaan dilakukan secara bergantian. Upacara adat tersebut biasanya dimulai pagi hari, berakhir petang hari, tergantung seberapan banyak jumlah lokasi yang dijadwalkan hari itu. Begitu seterusnya, satu sama-lain larut dalam suasana peuh hikdmat.

Menurut seorang pemangku adat sekaligus uama, M.Yusuf Can Dt Saih Tuma Alam, Ritual Rayo Katampek digelar selama 7 hari, dimulai 2 Syawal Idul Fitri. Jadwal, tempat pandam pekuburan yang dikunjungi sudah tersusun sebagaimana mestinya semenjak dahulu.  Jadi,  soal jadwal, lokasi, tinggal menunggu gilirannya tiba. Maka si tuan rumah mesti bersiap-siap dengan tanggung-jawabnya.

Secara garis besar, Nagari Gauang memiliki tiga kaum adat, yakni kaum suku Caniago, Supanjang, dan suku Koto. Masing-masing kaum punya sejumlah pandam pekuburan, dengan sistem pembagian sudah diatur sesuai garis keturunan, maupun sako  dan  pusako. Seirama alur garis keturunan dari kepala waris/  kaum, ibarat buah durian masing-nya punya ruang-ruang.     

Ketika jadwalnya tiba, sambungnya, biasanya si pemilik pandam pekuburan akan menjadi tuan rumah/ sipangka alek (helat), selanjutnya mereka menggelar kegiatan masak-memasak makanan yang akhirnya dibungkus menjadi  nasi bungkus, ditambah kue-kue/makanan ringan sebagai selingan.

Makanan yang siap dibungkus tersebut pun dari rumah dijujung lewat berjalan kaki menuju lokasi tampat oleh kaum ibu-ibu berpakaian adat (baju kuruang basiba hitam), untuk selanjutnya dibagi-bagikan pada semua pengunjung yang datang.

Rombongan kaum hawa pembawa jamba (makanan) adalah momentum khas tersendiri dalam setiap perayaan Lebaran Idul Fitri di Nagari Gauang, mereka berjalan berbanjar di labuh utama nagari.  Selain kaum ibu-ibu, dalam barisan pembawa jamba juga dihiasi bidadari-bidadari cantik utusan keluarga/ kaum bersangkutan.

“Ini sudah menjadi tradisi sejak dahulunya, hingga terus berlangsung sampai sekarang,” Kata M.Yusuf yang juga pensiunan guru SMKN 1 Kota Solok.

Bersamaan dengan itu, ratusan masyarakat yang sedari awal berkumpul di lokasi acara, harap-harap cemas menunggu kedatangan rombongan pembawa makanan tersebut. Yang tak kalah pentingnya, diantara para tamu yang memadati tempat ritual,  telah hadir Alim Ulama, Pemangku Adat, Cerdik Pandai, Pemuda, serta berbagai unsur lainnya.

Begitu pihak sipangka helat tiba, upacara Rayo Katampek pun dimulai. Diawali dengan ritual balaho (tahlilan), berbalas pantun adat, serta diikuti pembacaan doa. Kebetulan dipertengahan ritual, juga dilangsungkan pembagian jamba pada segenap tamu yang datang, disertai pengumpulan infak/sedekah untuk pembangunan Masjid oleh rajo Janang, yakni anak laki-laki dari keluarga laki-laki kaum bersangkutan.     

“Nasi bungkus dan beraneka macam makanan yang dibagi-bagikan tersebut disiapkan oleh masing-masing kaum selaku ahliwaris. Tidak memandang apakah itu orang miskin, kaya, berpangkat, rakyat biasa, semuanya diberi jamba,” timpal Aditiawarman Dt.Kayo, Ninik Mamak dari kaum suku Supanjang.

Dikatakannya, jamba yang dibagi-bagikan ke pengunjung diimplementasikan sebagai sedekah, pahalanya diniatkan untuk para anggota keluarga yang telah meninggal sekaligus bermakam di pandam perkuburan tersebut.  Rayo Katampek juga sekaligus menjadi ajang ritual akbar ziarah kubur, serta perekat tali silaturrahmi, kekeluargaan antar sesama. 

Yang paling penting, sekalipun masih kecil, namun soal hubungan kekerabatan dengan para leluhur harus tetap diketahui.  Dengan begitu, generasi penerus dapat faham akan sejarah, seluk beluk antar sesama, serta perjalanan waktu kaumnya sendiri dari masa ke-masa.  Dimana pertikaian, selang sengketa dalam suatu nagari, cenderung lebih disebabkan karena ketidaktahuan generasi penerus akan sejarah, serta sejauh mana sesungguhnya pertalian/hubungan mereka satu sama lain. Demi kepentingan pribadi, cenderung segala cara dihalalkan.  

Sebuah Kebanggaan, Kaum Laki-laki ikut Merambah Kubur
Sebelumnya, Wali Nagari Gauang, Rizal Idzeko, mengungkapkan, ada serangkaian kegiatan cukup unik sekaitan ritual Rayo Katampek di daerah yang dipimpinnya. Dimana sebelum digelar ritual adat Rayo Katampek, para kaum laki-laki dalam nagari lebih dahulu melakukan kegiatan pembersihan tampat (pandam pekuburan) yang disebut merambah kubur. Terlebih bagi kalangan muda, tenaganya cukup diandalkan.

Sebagai simbol ikut berkontribusi terhadap kaum lain, para laki-laki biasanya datang lebih awal ke pandam pekuburan tersebut sambil membawa sebilah parang atau golok, serta cangkul untuk membersihkan komplek pusara. Begitu ritual Rayo Katampek dimulai, jamba dibagikan, mereka serempak duduk tertip melingkar, dan golok ditancapkan ke tanah persis di depan tempat duduk.

“Bagi kaum laki-laki, membawa parang ke lokasi acara menjadi sebuah kebanggaan tersendiri, karena hal tersebut sekaligus menjadi simbol jika mereka telah ikut berkontribusi meski secara umum berasal dari kaum berbeda,” Jelas Wali Nagari.

Ditambahkan Wali Nagari Gauang, kegiatan Rayo Katampek bertujuan sebagai momentum ziarah kubur, diikuti prosesi memanjatkan doa, tahlilan massal. Ritual ini dianggap penting dan tetap harus dilaksanakan mengingat jasa para leluhur begitu besar bagi anak cucu, hingga patut untuk tetap dikenang dan dihargai. Sekaligus sebagai simbul tegaknya adat basandi syara, syara basandi kitabullah.

“Betapa susahnya dahulu mereka mengolah hamparan bumi ini dalam pekatnya belantara, hingga akhirnya berhasil dijadikan  sawah dan ladang untuk digarap oleh anak-cucu. Sampai membuat kultur, adat, budaya dalam hidup bermasyarakat. Maka, tidak ada salahnya jika di hari baik bulan baik untuk mencoba menziarahi mereka,” Pungkas Rizal.  (Red)

Senin, 06 Juli 2015

Tahu kah Anda ?



Mengenal Keluarga Nabi Muhammad SAW:
Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Istri, Anak, Ibu Susuan, Saudara Susuan

Dalam rangka memperkuat keimanan kita pada Allah SWT dan Rasulnya (Muhammad SAW),  baiknya kita mengenali silsilah keluarga baginda Rasulullah SAW. 
Berikut sepenggal pengetahuan dari kami ;
Nama lengkap: Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muttalib bin Hashim
Nama ayah: ‘Abdullah bin ‘Abdul Muttalib bin Hashim
Nama ibu: Aminah binti Wahab bin ‘Abdul Manaf
Nama kakek dari pihak ayah: Syaibah bin Hâsyim dikenal dengan nama ‘Abdul Muttalib
Nama nenek dari pihak ayah: Fatimah binti Amr bin `A’idh bin Imran bin Makhzum
Nama kakek dari pihak ibu: Wahab bin Abdulmanaf bin Zuhrah bin Kilab.
Nama nenek dari pihak ibu: Barrah binti Abdul-Uzza bin Usman bin
Abduddar bin Qushay
Kakek Rasulullah Abdul Muthalib memiliki anak sebanyak 19 orang anak. 13 orang laki laki dan yang selebihnya adalah wanita.Ayah Rasulullah Saw merupakan yang termuda.
Kedua belas paman rasulullah tersebut adalah :
1. Haris ,ia merupakan paman Rasullah yang tertua.
2. Abu Thalib,nama lengkap beliau Abdu Manaf
3. Zubair, Kuniyah nya adalah Abu Haris
4. Hamzah ,Kuniyahnya Abu `Umarah dan Abu Ya`la
5. Abu Lahab nama lengkapnya Abdul Uzza
6. Ghaidaq
7. Muqawwam
8. Dhirar
9. `Abbas
10. Qusam
11. Abdul Ka`bah
12. Hajal dikenal juga dengan Mughirah



Dalam riwayat yang lain, paman-paman Nabi Muhammad SAW disebutkan sebagai berikut.
  1. Al-Harith bin Abdul Muthalib
  2. Muqawwam bin Abdul Muthalib
  3. Zubair bin Abdul Muthalib
  4. Hamzah bin Abdul Muthalib
  5. Al-Abbas bin Abdul Muthalib
  6. Abu Thalib bin Abdul Muthalib
  7. Abu Lahab bin Abdul Muthalib
  8. Abdul Kaabah bin Abdul Muthalib
  9. Hijl bin Abdul Muthalib
  10. Dzirar bin Abdul Muthalib
  11. Ghaidaq bin Abdul Muthalib
Diantara seluruh paman Rasulullah yang masuk islam hanyalah Hamzah dan Abbas.
Saidina Hamzah masuk Islam pada tahun ke dua Tahun kenabian. Ada juga ynag mengatakan bahwa beliau masuk Islam pada tahun ke 6 kenabian. Beliau mendapat gelar Asadullah ( Singa Allah ).
Berkenaan dengan gelar tersebut Rasulullah pernah mengatakan  ‘’Sungguh demi Zat yang menguasai Jiwaku,sungguh tertulis pada langit yang ketujuh bahwa Hamzah itu adalah Singa Allah dan singa RasulNya.’’
Dalam hadis yang lain beliau bersabda ‘’Sebaik baik paman ku adalah Hamzah’’.
Beliau sempat mengikuti perang badar dan syahid dalam peperangan Uhud.
Pada ketika melihat jasad Saidina Hamzah, Rasulullah menangis.
Pada ketika Syahid beliau berusia 59 tahun dan dimakamkan bersama dengan anak saudaranya Abdullah bin Jahsy dalam satu liang kubur.

Adapun Saidina Abbas merupakan paman yang termuda beliau memiliki kuniyah Abu Fadhal. Beliau lebih muda dari rasulullah sekitar 2 atau 3 tahun. Beliau termasuk pemuka suku Quraisy dan masuk Islam pada penaklukan Khaibar tetapi beliau menyembungikan keislaman beliau dan baru menampakkan keislaman beliau pada ketika penaklukan kota Makkah. Rasulullah sering kali mendoakan beliau dan anak anak cucu beliau. Beliau wafat pada masa khilafah Saidina usman bin Affan Ra pada tahun 33 H dalam usia 88 tahun dan dimakamkan di Baqi` .
Adapun bibi Rasulullah yaitu:
  1. `Atikah
  2. Umaimah
  3. Baidhak ( Ummu Hakim)
  4. Barrah
  5. Shafiyah
  6. Arwa
Shafiyah merupakan ibunda dari Saidina Zubair bin Awam.
Beliau masuk islam dan sempat mengikutiperang Khandak serta beliau sempat membunuh seorang laki lkai dari golongan yahudi dan Rasulullah sendiri memberikan astu bagian dari harta ghanimah untuk beliau. Beliau wafat pada masa kekhalifahan saidina Umar tahun 20 H dalam usia 70 tahun dan dimkamkan di Baqi`.
Adapun atikah dan Arwa terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama tentang keislaman keduanya.
Nenek Rasulullah Saw.

Nama nama Nenek rasulullah dari pihak bapak beliau adalah sebagai berikut:
  1. Ibunda ayah beliau bernama Fathimah binti Amri Al Muakhzumiyah
  2. Ibunda Abdul Muthaleb adalah Salma binti Amri An Najjariyah
  3. Ibunda Hasyim adalah Atikah binti Murrah As Sulaimiyah
  4. Ibunda Abdi Manaf Atikah binti Falij As sulaimiyah
  5. Ibunda Qushai adalah Fatimah binti Asad Al Azdiyah
  6. Ibunda Kilab Adalah Nu`m binti Sarir Al Kinaniyah
  7. Ibunda Murrah adalah Wahsyiah binti Syaiban Al Fahmiyah
  8. Ibunda Ka`ab adalah Salma binti Muharib Al fahmiyah
  9. Ibunda Luai adalah Wakhsyiah binti Mudlij Al Kinaniyah
  10. Ibunda Ghalib adalah salma binti Saad Al Huzaliyah
  11. Ibunda Fihir adalah Jandalah binti Haris Al Jurhumiyah
  12. Ibunda Malik adalah Hindun binti `Adwan Al Qaisiyah
  13. Ibunda Nadhar adalah Barrah binti Murrah Al Murriyah
Adapun nenek Rasulullah dari pihak ibunda adalah
  1. Ibunda Aminah adalah Barrah binti Abdul Uzza
  2. Ibunda Wahab adalah Atikah binti Awqash As Sulaimiyah
Ayahanda Atikah ini dikenal dengan nama Abi kabsyah . Beliaulah yang dimaksud oleh orang orang arab deangn panggilan mereka terhadap Rasulullah ‘’Ibnu Abi Kabsyah’’.
Ibunda Barrah (Ibunda Aminah ) adalah Ummu Habibah binti Al Haris Al Huzailiyah anak dari Hindun binti Yarbu` Ast Saqafiyah

Saudara Sesusuan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memilki beberapa saudara sesusuan baik ketika menyusu dengan Thuwaibah maupun ketika menyusu dengan Halimatus Sa`diyah .yaitu :
  1. Hamzah
  2. Abu salamah bin Abdil `Asad
Keduanya sama sama menyusu dengan Rasulullah kepada Thuwaibah , hamba sahaya Abu Lahab ketika Thuwaibah sedang menyusu anaknya Masruh bin Suwaibah
  1. Abu Sufyan bin Haris bin Abdul Muthalib, beliau merupakan saudara susuan Rasulullah dengan Halimatus Sa`diyah
  2. Abdullah
  3. Asiyah
  4. Huzafah dikenal dengan nama Asy Syaima`
Ketiganya merupakan anak Halimatus Sa`diyah
Nama Ibu susuan Rasulullah:
  • Ibu susuan pertama Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab)
  • Ibu susuan kedua Halimah binti Abu Zuaib As-Sa‘diah (lebih dikenali Halimah As-Sa‘diah. Suaminya bernama Abu Kabsyah). Halimah punya anak perempuan bernama Asy-Syaima’ yang kemudian menjadi tawanan perang Hunain dan kemudian dibebaskan.
Nama isteri pertama dan usia baginda menikah:
  • Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah pada usia 25 tahun
Nama isteri-isteri Rasulullah:
  1. Khadijah bt. Khuwailid al-Asadiyah r.a
  2. Saudah bt. Zam’ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a
  3. Aisyah bt Abi Bakr r.a (anak Saidina Abu Bakar)
  4. Hafsah bt. Umar bin al-Khattab r.a (anak Saidina ‘Umar bin Al-Khattab
  5. Ummu Salamah Hindun bt. Abi Umaiyah r.a (digelar Ummi Salamah)
  6. Ummu Habibah Ramlah bt. Abi sufian r.a
  7. Juwairiyah ( Barrah ) bt. Harith
  8. Safiyah bt. Huyay
  9. Zainab bt. Jansyin
  10. Asma’ bt. al-Nu’man al-Kindiyah
  11. Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah
  12. Zainab bin Khuzaimah (digelar ‘Ummu Al-Masakin’; Ibu Orang Miskin)
Nama anak-anak Rasulullah:
  1. Qasim
  2. Abdullah
  3. Ibrahim
  4. Zainab
  5. Ruqaiyah
  6. Ummi Kalthum
  7. Fatimah Al-Zahra’
  8. Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah al-Tamimi (anak kepada Saidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda). Jadi beliau ini adalah anak tiri Rasulullah. (Red)

Referensi